Welcome To Dream World

Don't be afraid of having high dreams because they (successful people) always begin from dreaming, big dreams. just keep fighting to reach 'em. we can do what we want to do and we can be what we want to be.

Jumat, 11 November 2011

Jangan Pernah Menggenggam Sahabatmu


Setiap manusia pasti memiliki orang-orang  spesial di dalam hidupnya. Misalnya, Orang tua, saudara, sahabat, kekasih, teman dll.  Karena tadi saya sudah berjanji untuk menulis sesuatu yang bertemakan tentang sahabat. Maka kali ini saya akan sedikit mengupasnya. Saya juga tidak akan ngoyo untuk membuat catatan ini menjadi sebuah esai yang baik. Tujuan utama saya adalah memberikan sedikit tips dan saran untuk teman-teman yang memiliki sahabat dan menganggap sahabat itu berarti penting dalam hidup teman-teman.
Kalo berbicara tentang sahabat, pasti tidak akan ada habisnya bukan? Sahabat adalah orang yang selalu mendukung kita, menghibur kita disaat kita rapuh, orang yang tetap setia membantu kita agar kita tetap tegap berdiri walaupun teman-teman (penghianat) kita menertawakan kita dari belakang, orang yang selalu memberikan nasehat-nasehat, walaupun nasehat mereka kadang-kadang terdengar tak masuk akal, tapi sebenarnya tujuan mereka baik, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kita. Saya rasa hidup ini akan hampa, dan pasti ada lubang di hati kita jika kita tidak atau belum menemukan sahabat (sejati).  Saya pernah mencari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini (lubang di hati). Dan saya telah menemukannya (Thanks  4 all of my best friends). Ya.. ternyata merekalah  yang mampu menambalnya.  Saya rasa teman-teman juga pasti pernah merasakan bahagianya berbagi suka-cita, berkumpul, bercanda dengan sahabat-sahabat kalian.
Tetapi dalam sebuah ‘persahabatan’ nonsense jika tidak pernah menemui permasalahan. Tapi bagaimana jika permasalahan itu membawa kalian di ujung tanduk? mengancam hubungan ‘persahabatan’ itu sendiri? Saya pernah mengalaminya, bahkan bisa dikatakan sering. Dan jujur, itu sangat membuat stress. Tidak hanya dengan satu orang sahabat saya, tapi saya pernah mengalaminya dengan tiga orang, untungnya tidak dalam waktu yang sama atau kurun waktu yang dekat. Saya selalu berusaha mati-matian untuk mempertahankan persahabatan itu. Walaupun saya pernah hampir menyerah. Tapi saya masih tetap bertahan. Saya tetap memaksa mereka untuk tetap menjadi sahabat saya. Dan baru-baru ini saya sadar bahwa apa saya lakukan itu SALAH.
Iseng-iseng saya bermain pasir. Saya letakkan pasir itu pada telapak tangan saya, kemudian saya angkat dan saya genggam. Dan teman-teman pasti tahu apa yang terjadi. Ya.. benar banyak dari butiran pasir itu jatuh. Saya berfikir bahwa hal itu sama dengan bagaimana cara menjaga persahabatan. Mungkin memang jauh sekali hubungannya antara menggenggap pasir dengan menjaga persahabatan. Agar tidak semakin membuat teman-teman bingung kita ambil contoh dengan menggunakan benda lain. Kelereng misalnya,  teman-teman bisa mencoba. Caranya, tulis masing-masing satu kata berbeda pada satu kelereng. Kata-kata yang dimaksud adalah kata-kata positif dari apa yang teman-teman dapatkan saat memiliki sahabat atau kata kunci (menurut teman-teman) yang dapat membuat persahabatan semakin erat. Misalnya ‘kejujuran’, ’percaya’, ‘menghargai’, ‘(berbagi) suka’, ’duka’ dll. Jika teman-teman merasa cukup, taruhlah kelereng-kelereng itu pada salah satu telapak tangan teman-teman. Jika tidak muat lagi, tumpuk, jika tidak dapat ditumpuk lagi maka letakkan kelereng itu mengelilingi telapak tangan teman-teman. Setelah semua kelereng sudah diletakkan. Cobalah untuk menggenggapnya. Kemudian lihat apa yang terjadi. Kata-kata apa yang terjatuh?? Bagaimana jika yang terjatuh adalah kata ‘kejujuran’ dan ‘percaya’? bagaimana jika yang tersisa di genggaman teman-teman itu adalah kata ‘(berbagi) suka’ ‘bercanda’ ‘tawa’??  apa kata-kata yang tersisa digenggaman itu cukup untuk ‘bersahabat’ jika memang iya. Lalu apabedanya ‘teman (biasa)’ dan ‘sahabat’. Jika ‘teman (biasa)’ dan ‘sahabat’ itu sama mengapa dari dulu definisinya dibedakan??
Mungkin orang berfikir saya ini terlalu berlebihan. Tapi ya.. inilah saya. Inti dari eksperimen diatas adalah jangan pernah memaksa. Memaksa itu tidak baik bukan? Apalagi jika hanya satu orang saja yang memperjuangkan ‘persahabatan’. Hey.. kalian tidak hanya bersahabat dengandiri kalian sendiri bukan? Jika salah satu pihak saja yang mempertahankan itu. Mungkin ada kata yang hilang atau kata yang telah terjatuh, yaitu ‘kekompakan’. Sekali lagi jangan pernah memaksa (sebenarnya saya juga menasehati diri saya sendiri). Dan jangan sekali-kali menggenggap (memaksa). Biarkanlah mereka bebas dan biarkanlah telapak tangan kita tetap terbuka. Saya yakin mereka pasti tahu jika kita hanya ingin yang terbaik untuk mereka. 

(catatan ini sangat memerlukan kritik dan saran, tetapi jika tidak ada, tidak apa-apa lah :) )

by : Rae Shella Tivani Mareta
11/11/11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar