Setiap manusia
pasti memiliki orang-orang spesial di
dalam hidupnya. Misalnya, Orang tua, saudara, sahabat, kekasih, teman dll. Karena tadi saya sudah berjanji untuk menulis
sesuatu yang bertemakan tentang sahabat. Maka kali ini saya akan sedikit
mengupasnya. Saya juga tidak akan ngoyo
untuk membuat catatan ini menjadi sebuah esai yang baik. Tujuan utama saya adalah
memberikan sedikit tips dan saran untuk teman-teman yang memiliki sahabat dan
menganggap sahabat itu berarti penting dalam hidup teman-teman.
Kalo berbicara
tentang sahabat, pasti tidak akan ada habisnya bukan? Sahabat adalah orang yang
selalu mendukung kita, menghibur kita disaat kita rapuh, orang yang tetap setia
membantu kita agar kita tetap tegap berdiri walaupun teman-teman (penghianat)
kita menertawakan kita dari belakang, orang yang selalu memberikan nasehat-nasehat,
walaupun nasehat mereka kadang-kadang terdengar tak masuk akal, tapi sebenarnya
tujuan mereka baik, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kita. Saya rasa hidup
ini akan hampa, dan pasti ada lubang di hati kita jika kita tidak atau belum menemukan
sahabat (sejati). Saya pernah mencari
sesuatu yang mampu mengisi lubang ini (lubang di hati). Dan saya telah
menemukannya (Thanks 4 all of my best
friends). Ya.. ternyata merekalah yang
mampu menambalnya. Saya rasa teman-teman
juga pasti pernah merasakan bahagianya berbagi suka-cita, berkumpul, bercanda
dengan sahabat-sahabat kalian.
Tetapi dalam
sebuah ‘persahabatan’ nonsense jika
tidak pernah menemui permasalahan. Tapi bagaimana jika permasalahan itu membawa
kalian di ujung tanduk? mengancam hubungan ‘persahabatan’ itu sendiri? Saya pernah
mengalaminya, bahkan bisa dikatakan sering. Dan jujur, itu sangat membuat
stress. Tidak hanya dengan satu orang sahabat saya, tapi saya pernah
mengalaminya dengan tiga orang, untungnya tidak dalam waktu yang sama atau
kurun waktu yang dekat. Saya selalu berusaha mati-matian untuk mempertahankan
persahabatan itu. Walaupun saya pernah hampir menyerah. Tapi saya masih tetap bertahan.
Saya tetap memaksa mereka untuk tetap menjadi sahabat saya. Dan baru-baru ini
saya sadar bahwa apa saya lakukan itu SALAH.
Iseng-iseng
saya bermain pasir. Saya letakkan pasir itu pada telapak tangan saya,
kemudian saya angkat dan saya genggam. Dan teman-teman pasti tahu apa yang
terjadi. Ya.. benar banyak dari butiran pasir itu jatuh. Saya berfikir bahwa hal
itu sama dengan bagaimana cara menjaga persahabatan. Mungkin memang jauh sekali
hubungannya antara menggenggap pasir dengan menjaga persahabatan. Agar tidak semakin
membuat teman-teman bingung kita ambil contoh dengan menggunakan benda lain. Kelereng
misalnya, teman-teman bisa mencoba. Caranya,
tulis masing-masing satu kata berbeda pada satu kelereng. Kata-kata yang
dimaksud adalah kata-kata positif dari apa yang teman-teman dapatkan saat
memiliki sahabat atau kata kunci (menurut teman-teman) yang dapat membuat
persahabatan semakin erat. Misalnya ‘kejujuran’, ’percaya’, ‘menghargai’, ‘(berbagi)
suka’, ’duka’ dll. Jika teman-teman merasa cukup, taruhlah kelereng-kelereng itu
pada salah satu telapak tangan teman-teman. Jika tidak muat lagi, tumpuk, jika
tidak dapat ditumpuk lagi maka letakkan kelereng itu mengelilingi telapak
tangan teman-teman. Setelah semua kelereng sudah diletakkan. Cobalah untuk
menggenggapnya. Kemudian lihat apa yang terjadi. Kata-kata apa yang terjatuh?? Bagaimana
jika yang terjatuh adalah kata ‘kejujuran’ dan ‘percaya’? bagaimana jika yang
tersisa di genggaman teman-teman itu adalah kata ‘(berbagi) suka’ ‘bercanda’ ‘tawa’??
apa kata-kata yang tersisa digenggaman
itu cukup untuk ‘bersahabat’ jika memang iya. Lalu apabedanya ‘teman (biasa)’
dan ‘sahabat’. Jika ‘teman (biasa)’ dan ‘sahabat’ itu sama mengapa dari dulu
definisinya dibedakan??
Mungkin orang
berfikir saya ini terlalu berlebihan. Tapi ya.. inilah saya. Inti dari eksperimen diatas adalah jangan pernah
memaksa. Memaksa itu tidak baik bukan? Apalagi jika hanya satu orang saja yang
memperjuangkan ‘persahabatan’. Hey.. kalian tidak hanya bersahabat dengandiri
kalian sendiri bukan? Jika salah satu pihak saja yang mempertahankan itu. Mungkin
ada kata yang hilang atau kata yang telah terjatuh, yaitu ‘kekompakan’. Sekali lagi
jangan pernah memaksa (sebenarnya saya juga menasehati diri saya sendiri). Dan jangan
sekali-kali menggenggap (memaksa). Biarkanlah mereka bebas dan biarkanlah telapak tangan
kita tetap terbuka. Saya yakin mereka pasti tahu jika kita hanya ingin yang
terbaik untuk mereka.
(catatan ini sangat memerlukan kritik dan saran, tetapi jika tidak ada, tidak apa-apa lah :) )
by : Rae Shella Tivani Mareta
11/11/11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar